Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Menyoal Publikasi Karya Ilmiah

I Ketut Suweca

Pembicaraan seputar karya tulis dan publikasi di jurnal ilmiah belakangan demikian marak. Tak hanya ditulis di media massa cetak, bahkan di media online pun, kesemarakan diskusi tersebut tak terbendung. Semua itu berawal dari Surat Edaran (SE) Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 bertanggal 27 Januari 2012 yang mewajibkan setiap mahasiswa S1, S2, dan S3 membuat dan mempublikasikan karya ilmiahnya melalui jurnal ilmiah. Untuk S1 di jurnal ilmiah kampus setempat, S2 di jurnal nasional yang teakreditasi, dan S3 di jurnal internasional. Surat edaran yang dikirim kepada para rektor/ketua perguruan tinggi se-Indonesia dan diberlakukan mulai dari kelulusan Agustus 2012 itu ternyata telah mengundang lahirnya berbagai pendapat dari kalangan perguruan tinggi dan mahasiswa yang menjadi “objek” kebijakan. 

Sebagian diantara mereka yang dengan senang hati menerima “perintah” itu. Sebagian lainnya, mengkritisi kebijakan Dirjen Dikti tersebut dengan berbagai argumentasi, bahkan menuding kebijakan itu sama sekali tanpa pijakan dan tidak membumi. Bahkan, di sebuah media nasional, Franz Magnis-Suseno, dalam artikelnya menulis pertanyaan retoris, “Pertanyaan saya, berapa lama rekan-rekan di perguruan tinggi di Indonesia membiarkan diri dipermainkan oleh birokrat-birokrat yang wawasannya kadang-kadang berkesan beyond hope, melampaui harapan?” 

Terlepas dari sikap pro-kontra yang terjadi, kelahiran SE tersebut tentu dilandasi oleh niat baik, yakni agar para mahasiswa Indonesia lebih produktif lagi dalam menulis karya ilmiah sehingga tidak kalah dari negara yang dijadikan rujukan dalam SE itu. Menariknya, negara yang dijadikan rujukan adalah Malaysia yang kuantitas publikasi ilmiahnya jauh lebih banyak daripada Indonesia. Berdasarkan data, selama kurun 1996-2010, Indonesia memiliki 13.047 jurnal ilmiah, sementara Malaysia 55.211. Yang lupa dirujuk adalah bagaimana pendanaan penelitian di negara itu, bagaimana pula tingkat kondusivitas research PT-PT setempat. Di dalam artikel sederhana ini, penulis akan mengemukakan sedikit bahan pertimbangan sederhana. Tak hendak “mengajar itik berenang” karena kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh sebuah institusi tentu (seharusnya) telah melalui berbagai kajian yang mendalam.
Pertama, yang berkaitan dengan kondisi perguruan tinggi di Indonesia. Kebijakan yang diteken Dirjen Dikti itu dimaksudkan untuk semua perguruan tinggi di Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, hendaknya disadari bahwa perguruan tinggi di Indonesia sangat bervariasi dalam banyak hal, termasuk dalam kualitas dan kemampuan finansial. Ada perguruan tinggi besar dan ternama dengan hasil risetnya, sebaliknya tak kurang yang berkategori kecil atau kata teman saya disebut “PT Gurem” yang untuk mendukung kegiatan operasionalnya saja sudah setengah mati. Bagi sebagian dari perguruan tinggi yang besar dengan fasilitas lengkap, mungkin tak terlalu masalah dengan kewajiban publikasi ilmiah bagi mahasiswanya. Dia pada umumnya telah mempunyai publikasi ilmiah di kampusnya, walaupun tetap saja paper yang mampu dimuat di dalam publikasi itu menjadi kendala karena daya tampung yang terbatas. Tetapi, bagi perguruan tinggi swasta kecil di pelosok yang tidak memiliki publikasi ilmiah, persoalannya akan menjadi rumit. Ke mana mahasiswa akan mempublikasi karya ilmiahnya agar bisa lulus studi? Kalau melalui publikasi online, bagaimana pengawasan mutunya? Sudahkah semua publikasi ilmiah dalam posisi online?

Kalau persyaratan karya ilmiah wajib publikasi itu benar-benar diberlakukan tanpa ampun, maka akan banyak sekali calon sarjana yang mentok hanya karena publikasi ilmiah. Akan banyak sekali mahasiswa yang ngantri menjadi sarjana lantaran karyanya tak dimuat di jurnal ilmiah. Salah satunya penyebabnya karena terbatasnya jurnal ilmiah. Akan banyak mahasiswa “terperangkap” oleh aturan yang amat menyulitkan mereka untuk berhasil lulus. Akhirnya, kewajiban publikasi ilmiah menjadi penghambat bagi kelulusan seseorang calon sarjana. Semakin lama mereka studi, kian besar biaya yang dikeluarkan. Belum lagi kerugian psikologis yang menyertainya. Hal ini akan menjadi penyebab mahasiswa cenderung putus kuliah! Jangan-jangan, karena SE ini pula, banyak dosen yang merasa takut meneruskan pendidikannya ke jenjang S3, sesuatu yang kontraproduktif dengan cita-cita meningkatkan kualitas perguruan tinggi! Sudahkah hal ini diperhitungkan? 

Kedua, yang berkaitan dengan budaya menulis/mengarang. Diakui atau tidak, budaya menulis memang belum merata di kalangan mahasiswa, bahkan di kalangan dosen sekalipun. Sungguh menggembirakan kalau membaca karya tulis opini mahasiswa di beberapa media massa cetak. Mereka memanfaatkan media yang ada untuk mengekspresikan pendapatnya ke dalam karya yang bernas. Akan tetapi, lihatlah, yang menulis orangnya itu-itu saja dari waktu ke waktu. Kalau diamati, tidaklah banyak mahasiswa yang memiliki kemampuan menulis seperti itu, apalagi untuk tulisan dengan kadar ilmiah terpercaya untuk jurnal ilmiah pula. Oleh karena itu, ke depan sangat diperlukan pembimbingan/pendampingan dalam hal menulis karya ilmiah yang layak dipublikasikan. Di sinilah peran dosen sebagai pendamping mahasiswa sangat dibutuhkan. Akan tetapi, pertanyaannya, sudahkah semua dosen kita familiar dalam menyusun karya ilmiah yang layak dipublikasikan di jurnal nasional dan internasional? Untuk publikasi di tingkat nasional, apalagi internasional, tentu bukan perkara gampang seperti mengganti pakaian. Persoalan mutu karya adalah persoalan besar yang bisa membikin blunder!

Berangkat dari keadaan sebagaimana digambarkan di atas, maka penulis usulkan dua hal yang kiranya dapat dipertimbangkan dalam mengambil kebijakan ke depan. Motivasinya adalah agar tak ada pihak yang dirugikan dan jumlah publikasi ilmiah pun bisa bertambah secara bertahap yang bermuara pada peningkatan mutu pendidikan tinggi. 

Pertama, untuk sementara, ada baiknya ditunda dulu pemberlakuan SE tersebut. Lebih layak publikasi ilmiah dimaksud hanya diwajibkan untuk para dosen yang sudah bersertifikasi. Kedua, saat surat edaran itu diberlakukan nantinya terhadap para mahasiswa S1,S2, dan S3, hendaknya dimulai secara bertahap. Pada tahap awal, perlu dilakukan pendampingan kepada para dosen untuk meningkatkan kemampuan membuat karya tulis ilmiah yang bernas dan layak publikasi nasional dan internasional. Selanjutnya, kemampuan itu ditularkan kepada para mahasiswa didiknya. Mahasiswa sejak awal perlu dipersiapkan untuk memahami dan menyusun publikasi ilmiah ini. Pemerataaan pertumbuhan jurnal ilmiah pun hendaklah didorong di semua perguruan tinggi. Insentif pendukung kegiatan riset dan menulis karya ilmiah seyogianya lebih mendapat perhatian. Tahapan di atas, menurut penulis, perlu dilakukan untuk memperkuat persiapan semua komponen yang terkait.

Semoga niat baik Dirjen Dikti ini untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dapat tercapai secara bertahap tanpa meninggalkan “korban”, baik di pihak mahasiswa maupun perguruan tinggi.
Read more ...

Untaian Kata Penggugah Semangat Menulis

I Ketut Suweca

Sahabat kompasianer, apa kabar? Semoga sehat dan tetap bergairah menuangkan ide-ide melalui artikel di media kompasiana tercinta. Jika sekiranya diantara sahabat perlu penyemangat menulis karena merasa mentok, macet, atau malas, simak dan resapilah untaian penggugah yang saya petik dari berbagai sumber, berikut ini.
***
“Kuatkan alasan yang menggerakkan hasrat untuk segera menulis. Dengan motivasi yang kuat, niat kita tak akan berkubang menjadi rencana belaka. Kita harus membentuk spirit yang mantap dan beraksi konkret jika ingin segera melahirkan karya.” (Alberthine Endah)
***
”Menulis bukan lagi sebuah kerja elite, sulit, mahal, dan artifisial sebagaimana mulanya. Menulis kini adalah sebuah kerja ‘alamiah’, seperti kita minum, tidur, beranak, bersenandung, atau mencoret-coret gambar. Ia adalah satu kebutuhan dasar. Ia adalah ukuran adab dan kebudayaan. Dan, manusia terisap di dalamnya. Manusia harus bisa menulis, bahkan menjadi penulis.” (Radhar Panca Dahana)
***
“Aku memaksakan diriku untuk mulai menulis di saat aku sudah sangat lelah, ketika aku merasa jiwaku setipis kartu remi, ketika tidak ada sesuatu pun yang tampaknya pantas untuk dilakukan untuk lima menit berikutnya. Dan… kegiatan menulis itu ternyata dapat mengubah segalanya.” (Joyce Carol Oats)
***
“To be a writer, you must be curious about everything around you, feel more deeply and have more understanding of things than other people.” (Lin Yutang)
***
“Orang yang berbakat gagal melihat masalah sebagai hambatan. Sedangkan orang sukses melihat masalah sebagai tantangan yang membuat hidup lebih bergairah. Demikian pula dalam menulis.” (Mohammad Fauzil Adhim).
***
“Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” ( Pramoedya Ananta Toer).
***
“Membaca, membaca, membaca, jangan lupa membaca. Hidupkan, hidupkan, jangan lupa … menulislah, menulis, dan menulis …” (George Simenon).
***
Dalam bingkai semangat berbagi, untaian penggugah semangat ini saya hadirkan untuk para sahabat yang menyukai dunia tulis-menulis. Tiada lain maksudnya, agar gairah kita berkarya yang mungkin sempat redup, bersinar kembali.
Read more ...

Dua Ahli Bahasa di Sebuah Selokan

I Ketut Suweca

Saya beruntung mendapat kesempatan membaca buku “The Dancing Leader” (2011), terbitan Penerbit Buku Kompas. Di samping bisa menikmati pemikiran sejumlah ahli tentang kepemimpinan dan pembangunan ekonomi-pertanian, juga menyimak kumpulan cerita menarik dan bermanfaat di dalamnya. 

Kalau cerita itu melulu untuk saya nikmati sendiri, kayaknya nggak seru deh. Saya kutip satu dari puluhan cerita tersebut dan membagikannya untuk pembaca yang kebetulan belum sempat membaca buku itu. Judulnya: “Dua Ahli Bahasa di Sebuah Selokan.” Yuk kita mulai.

Dikisahkan, pada suatu hari seorang ahli bahasa terperosok ke dalam selokan yang cukup dalam. Dia tidak bisa keluar, kecuali dengan bantuan orang lain. Lalu, datanglah seorang petani dan berkata:
“Perlu bantuan?”
Sang ahli bahasa merasa tersinggung dengan bahasa orang itu yang terdengar kasar dan tidak mengindahkan tata bahasa yang baik dan benar.
“Ucapanmu itu bisa dimengerti kalau tadi kamu mengatakan, “Apakah kamu memerlukan bantuan, Tuan?” kata si ahli bahasa dari dalam selokan.
Kemudian datang lagi orang kedua dan berkata seperti orang yang pertama. Si ahli bahasa kembali marah-marah dan mengatakan lagi. “Ucapanmu baru bisa dimengerti kalau tadi kamu mengatakan, ‘Apakah kamu memerlukan bantuan, Tuan?’”

Begitu seterusnya sampai beberapa orang yang ingin menolongnya akhirnya membatalkan niatnya. Lantas, datanglah seseorang yang tampaknya juga seorang ahli bahasa. Orang itu berkata, ”Apakah kamu memerlukan bantuan, Profesor? Jika memerlukan, aku akan mengulurkan tangan kepadamu.”
Sang ahli bahasa yang terperosok di selokan senang bukan main. Dia mengulurkan tangan untuk memegang tangan sang penolong. Tetapi, tubuh sang penolong sangat lemah, hingga akhirnya mereka berdua terjungkal ke dalam selokan. Maka, jadilah dua orang ahli bahasa di sebuah selokan. 

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari cerita ini? Para cendekiawan sekarang sering disibukkan oleh sesuatu yang terlalu bergaya ilmiah dan tak peduli walau kadang penyelesaiaan persoalan yang dihadapi amat sederhana. Dalam cerita ini, yang diperlukan hanya mengulurkan tangan, tak perlu berteori tentang tata bahasa. Kekakuan sikap itu acapkali kurang pas diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Read more ...

Kelas Menengah dan Perilaku Konsumtif

Setelah mengalami pertumbuhan ekonomi minus 13,13 persen akibat krisis tahun 1998, Indonesia terus mencatat pertumbuhan positif rata-rata 5 persen sejak tahun 2000. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif sejak tahun 2000 melahirkan masyarakat kelas menengah. Geliat ekonomi ini telah memunculkan sekitar 9 juta warga kelas menengah baru setiap tahunnya. Kategori kelas menengah, menurut Bank Dunia, adalah mereka yang membelanjakan uangnya  sebesar  2 dolar sampai 20 dolar AS per hari.

Masyarakat kelas menengah ini diharapkan bisa menjadi semacam bemper ekonomi dari terjangan krisis  global. Konsumsi mereka yang menyumbang 70 persen dari pertumbuhan ekonomi  diharapkan menggerakkan perekonomian Indonesia agar terus bertumbuh.
Laporan Bank Dunia menyebutkan, jumlah kelas menengah di Indonesia saat ini sekitar 56,5 persen dari total jumlah penduduk. Menurut Sensus Penduduk 2010, penduduk Indonesia berjumlah 237,6 juta. Berarti, jumlah kelas menengah dengan pengeluaran per hari 2 dolar  AS  (sekitar Rp. 18.000,-) sampai dengan  20 dolar AS  (sekitar Rp.180.000,-) tidak kurang dari 134 juta orang.

Berkembangnya jumlah kelas menengah Indonesia secara pesat bukan melulu karena pertumbuhan ekonomi. Gaji pegawai negeri sipil dan swasta yang naik secara gradual juga mendorong tumbuhnya kelas menengah ini. Demikian juga perkembangan pekerjaan pada sektor telekomunikasi, penerbangan,  pertambangan, dan perkebunan yang tumbuh cepat ikut mendongkrak bertambahnya kelas menengah.

Perilaku Konsumtif
Dari 134 juta orang jumlah  kelas menangah, sekitar 14 juta orang masuk ke dalam rata-rata pengeluaran 6 dolar sampai 20 dolar AS per hari. Sebanyak  68 persen atau sekitar 91 juta orang lainnya merupakan kelas menengah bawah, dengan pengeluaran 2-4 dolar AS per hari.

Nafsu kelas menengah untuk berbelanja ternyata sangat besar. Bahkan masyarakat kelas menengah ini memiliki gaya tersendiri dalam berbelanja. Masih menurut Bank Dunia, nilai uang yang dibelanjakan kelas menengah Indonesia sangat  fantastis. Belanja pakaian dan alas kaki tahun 2010 mencapai Rp.113,4 triliun. Belanja rumah tangga dan jasa sebesar Rp.194,4 triliun, belanja di luar negeri Rp.50 triliun, dan biaya transportasi Rp. 283,6 triliun.

Lebih lanjut, data Bank Indonesia menunjukkan, jumlah transaksi menggunakan kartu kredit dalam periode 2005-2010 naik 2,5 kali lipat sehingga menjadi Rp.161,4 triliun. Ada 6,7 juta orang yang memegang kartu kredit. Kecenderungan peningkatan konsumsi dan transaksi menggunakan kartu kredit ini harus dikendalikan agar tidak kontraproduktif. Jika konsumen terjebak dalam nafsu konsumtif yang berlebihan sehingga  terjerat utang, bukan tidak mungkin kelas menengah ini bakal jatuh ke jurang kemiskinan.

Ekspektasi peningkatan penghasilan pada tahun-tahun mendatang diyakini  akan terus mendorong konsumsi. Kini, konsumsi berperan 70 persen atas produk domesti bruto (PDB). Hal ini dibenarkan oleh pengamat ekonomi, Tony Prasetiantono, yang mengatakan bahwa struktur perekonomian Indonesia menunjukkan konsumsi berperan sangat besar, yakni sekitar 70 persen. Disebutkan, menguatnya kelas menengah ini berdampak positif pada peningkatan permintaan tidak saja pada jasa penerbangan dan telekomunikasi, bahkan juga otomotif. Ini memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Potensi pertumbuhan masyarakat kelas menengah masih terbuka di tahun 2012. Pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sekitar 6,7 persen. Dengan asumsi ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi 1 persen akan menciptakan 450.000 lapangan kerja baru. Akan  tercipta peluang untuk mendapatkan pekerjaan bagi mereka yang menganggur. Dan,  mereka akan  sangat potensial menjadi kelas menengah.

Mesti Terkontrol
Tentu saja pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah di Indonesia merupakan sesuatu yang positif. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan relatif membaiknya tingkat pendapatan dan kesejahteraan sebagian masyarakat Indonesia. Akan tetapi, tetap harus diperhatikan bahwa 68 persen dari kelas menengah yang ada atau sebanyak 91 juta yang termasuk kelas menengah di level bawah dengan penghasilan 2-4 dolar AS. Jika perilaku konsumtif mereka menjadi-jadi dan tidak terkontrol, dapat dipastikan mereka akan terlibat utang. Apalagi dibarengi dengan kebiasaan berbelanja dengan kartu kredit yang bisa membuat penggunanya  tanpa sadar membelanjakan uangnya hingga  terkuras habis. Hukum Engle yang menyebutkan, bahwa elastisitas pendapatan terhadap permintaan nonmakanan lebih besar dari 1. Kenaikan pendapatan per kapita sebesar 1 persen akan meningkatkan permintaan konsumsi nonmakanan lebih dari 1 persen. Perilaku konsumtif  terjadi kini seakan membuktikan kebenaran  Hukum Engle itu.

Kecenderungan konsumtif akan lebih dipersubur oleh adanya pasar global yang membuka perdagangan antarnegara yang kian masif. Indonesia bakal terus diguyur dengan produk-produk impor melihat besarnya kelas menengah dan sifat konsumtif mereka. Dengan pola hidup konsumtif yang bertemu dengan ketersediaan barang-barang impor, bukan mustahil kelas menengah akan tanpa banyak pikir dalam  membelanjakan uangnya.

Lalu, mengapa kelas menengah ini cenderung berbelanja tidak terkontrol? Pertama, mungkin lantaran mereka merasa perlu merayakan kebebasan setelah lama terkungkung di dalam penderitaan sebagai orang melarat. Kedua, barangkali karena keinginan untuk unjuk kekayaan dengan membeli barang-barang peralatan rumah tangga, otomotif, telepon seluler terbaru, dan sebagainya. Mereka ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa status sosial mereka sudah berubah. Tidak lagi masuk kelas masyarakat miskin, melainkan sudah masuk kelompok berpunya dengan kepemilikan harta-benda itu.

Peningkatan pendapatan cenderung menggeser pola berbelanja, dari “kebutuhan” ke arah “keinginan”. Mencermati kecenderungan ini, maka kelas menengah  mesti hati-hati dan  mampu menahan nafsu berbelanja agar tidak mengeluarkan uang sekadar untuk  memenuhi keinginan, bukan kebutuhan yang sesungguhnya. Hal ini  harus benar-benar dilakukan jika tak ingin kelas menengah ini, terutama yang paling riskan adalah kelas menengah dengan  pengeluaran 2-4 dolar per hari, terpelanting dan jatuh miskin karena lebih besar pasak daripada tiang!

Ada dua hal positif yang bisa dilakukan oleh kelas menengah daripada sekadar memenuhi nafsu komsumtifnya. Pertama, meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat miskin. Pergeseran posisi ekonomi secara vertikal yang dicapai seyogianya juga meningkatkan kepedulian kelas menengah terhadap masyarakat miskin. Jangan hendaknya masyarakat kelas menengah hanya berkutat pada kepentingan sendiri dan menutup mata terhadap kondisi kaum miskin di sekitarnya. Dengan tumbuhnya kepedulian, maka mereka  ikut  berperan dalam membantu masyarakat miskin terlepas dari keterpurukannya sekaligus mempersempit kesenjangan ekonomi.

Kedua, kelebihan pendapat itu sebaiknya sebagian ditabung. Seperti dinyatakan ekonom Muhammad Chatib Basri, bahwa tabungan yang berlimpah akan membuat biaya investasi turun dan  pada gilirannya akan mendorong investasi. Ajakan ini sejalan dengan pesan lirik lagu bernada canda Titiek Puspa tempo dulu:  “bang bing bung yuk kita  ke bank/ bang bing bung yuk kita nabung/ tang ting tung he, jangan dihitung/tahu-tahunya kita pasti dapat untung.”
Read more ...

Empat Sifat Utama Manusia Kreatif

Pemerintah sudah mengidentifikasi lingkup industri  kreatif yang mencakup 14 sektor, yakni permainan interaktif, piranti lunak (software), periklanan, riset  dan pengembangan, seni pertunjukan, televisi dan radio, film, video dan fotografi, kerajinan, arsitektur, busana (fashion), desain, musik, pasar dan barang seni, serta penerbitan dan percetakan.

Usaha memajukan sektor ekonomi kreatif Indonesia memerlukan insan-insan yang kreatif. Unsur kreativitas inilah yang menjadi modal utama bagi terlahirnya produk-produk kreatif sebagai hasil daya cipta dan karsa manusia. Tanpa kreativitas, maka hasil karya akan monoton, bahkan mungkin tak laku lagi di pasaran. Kreativitas menjadi unsur penentu bagi keberlanjutan hidup industri-industri kreatif untuk menyokong tumbuhnya ekonomi kreatif di negeri ini.

Joseph G. Mason (1999) mengatakan  bahwa semua penelitian mengenai apa yang menyebabkan seseorang menjadi kreatif menunjukkan empat sifat utama. Beberapa eksperimen memperlihatkan bahwa keempat sifat ini bisa diperoleh atau dikembangkan ke suatu tingkat pada setiap individu.  Keempat sifat utama manusia kreatif sebagaimana disebut Joseph G. Mason meliputi: kepekaan terhadap masalah, membuka aliran gagasan, menemukan orisinalitas/keaslian, dan memegang fleksibilitas kreatif.
Kepekaan terhadap masalah.

Setiap apapun yang dikerjakan dan dihasilkan manusia, tak pernah mencapai kesempurnaan. Selalu saja ada kekurangan, selalu saja ada cacat-celanya. Pada setiap produk, senantiasa bisa dilihat mengenai “apa yang bisa diperbaiki”. Dengan landasan pemikiran seperti ini, maka akan dapat diselidiki ‘apa masalah’ yang masih ada pada suatu produk. Kalau produk itu berupa patung, misalnya, maka pertanyaannya yang muncul diantaranya: bagian detail mana yang bisa disempurnakan sehingga hasilnya akan lebih baik lagi ke depan? Kalau itu produk fotografi: bagaimana memanfaatkan teknik yang lebih baik agar foto yang dihasilkan pun lebih bagus?

Menurut Joseph G. Mason, cara termudah untuk memperbaiki kepekaan terhadap masalah sebenarnya sederhana saja, yaitu dengan menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang sudah dikerjakan  dengan sempurna. Setiap artikel yang dibuat manusia, setiap operasi bisnis, setiap teknik hubungan manusia, selalu bisa diperbaiki dan pada suatu hari akan berubah menjadi lebih baik. Jika orang dapat mengenali masalah-masalah ini sebagai suatu tantangan bagi upaya kreatifnya, ia akan berada di separuh jalan untuk menemukan pemecahan kreatif.

Membuka Aliran Gagasan

Setiap orang sejatinya dapat mengumpulkan sejumlah besar alternatif pemecahan terhadap suatu masalah tertentu dalam kurun waktu tertentu. Semakin banyak gagasan yang dimiliki, semakin besar kesempatan untuk menemukan pemecahan terbaik yang dapat digunakan. Di samping itu, akan kian terbentang peluang untuk menghindari cara-cara lama dalam mengerjakan segala sesuatu. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk kelancaran aliran gagasan, yaitu: pertama, membuat catatan.  Membuat catatan sudah jamak diketahui dan dipraktikan. Jenis catatan yang harus dibuat adalah yang menangkap setiap gagasan liar. Catatlah segera, tuliskanlah di selembar kertas atau buku yang tersedia. Catat pula pendapat kita terhadap semua masalah yang kita   pikirkan.  Termasuk mencatat segala sesuatu yang diperkirakan berguna di masa depan, betapapun tampak kecilnya kemungkinan itu. 

Tes psikologi tentang kemampuan mengingat sesuatu, menyebutkan: kecepatan lupa adalah 25 persen dalam 24 jam pertama, 85 persen dalam satu minggu. Karena itu, membuat cacatan untuk membantu mengingat menjadi sangat masuk akal. Sistem apapun yang dibuat, sasarannya adalah untuk dapat dengan cepat mengumpulkan dan menemukan kembali segala sesuatu yang telah kita lihat, baca, dengar, atau alami sebelumnya.
Kedua, menemukan waktu kreatif. Setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama, yakni 24 jam dalam sehari. Dalam siklus waktu itu, ada saat-saat di mana seseorang menemukan puncak-puncak kreativitasnya, entah pagi, siang, sore, ataupun malam hari. Pada saat-saat itulah dia menjadi begitu kreatif dalam berpikir. Banyak ide-ide lahir pada waktu-waktu tertentu. Itulah saat yang disebut dengan puncak kreatif seseorang. Inilah karunia Tuhan yang tiada duanya, yang pantas dimanfaakan untuk melahirkan gagasan kreatif. Sia-sialah kalau seseorang yang dikaruniai waktu-waktu kreatif tetapi tidak memanfaatkannya dengan baik, malahan memilih berleha-leha.

Siklus kreativitas setiap orang berbeda-beda dan harus diketemukannya sendiri. Setelah menemukan puncak waktu kreatif itu, lalu manfaatkan untuk memikirkan pemecahan masalah dengan tujuan mendapatkan gagasan. Jika dipandang perlu,  gunakan lokasi atau ruang yang  khusus dan sama  dalam setiap waktu kreatif ini. Suasana lingkungan yang mendukung bisa membantu pendakian ke puncak kreativitas dus menghasilkan gagasan-gagasan berharga .

Ketiga, menentukan batas waktu. Menjadi sifat manusia untuk menunda-nunda penyelesaian masalah. Kalau  bisa dikerjakan besok, mengapa harus sekarang? Begitulah pertanyaan retoris yang cenderung menghasilkan penundaan pemecahan masalah. Kita memang harus bersungguh-sungguh melibatkan diri secara emosional dalam memenuhi batas waktu yang kita tetapkan. Misalnya, dalam sehari kita berencana menemukan 10 alternatif pemecahan sebuah masalah. Dengan kata lain, pada hari itu, kita wajib mendapatkan 10 gagasan, dan berjuang untuk menepati dan memenuhinya. Hal ini akan menjadi suatu dorongan yang sangat baik.

Berikanlah kuota untuk diri sendiri. Tujuan mengembangkan aliran gagasan adalah untuk membangun kapasitas atau kemampuan kita  untuk menghasilkan gagasan. Usahakan kuotanya lebih banyak dari gagasan yang sebenarnya kita butuhkan. Bonus tambahan yang bakal diperoleh: kita mungkin akan menemukan bahwa kualitas gagasan tersebut akan bertambah baik sejalan dengan kuantitasnya. Jika kita memiliki satu cara pemecahan masalah, dan ternyata gagal, maka masalah tak terpecahkan. Jika kita  punya satu masalah, tetapi mempersiapkan alternatif 10 gagasan sebagai jalan keluar, maka peluang penuntasan masalah menjadi sangat besar. Modal  kekayaan gagasan ini pun bisa menjadi investasi berharga bagi upaya pemecahan masalah lainnya yang sejenis.

Menemukan Orisinalitas/Keaslian
Salah satu sifat manusia kreatif adalah keingintahuannya yang tinggi. Dengan bekal keingintahuan (curiosity) yang tinggi, maka peluang untuk menemukan gagasan-gagasan baru sangat besar. Orang-orang seperti ini selalu bertanya kepada diri sendiri dan orang lain: Mengapa hal itu dibuat dengan  cara seperti itu?  Mengapa harus  mengikuti prosedur ini? Bagaimana kita dapat memperbaiki  cara kita melakukan hal ini? Adakah cara lain yang lebih baik? Bisakah kita menggunakan pendekatan teknologi dalam hal ini? Charles Kettering menyebut cara ini dengan istilah “menantang hal yang pasti secara sistematis”.

Sebuah karya kreatif adalah karya yang menunjukkan unsur kebaruan, orisinalitas. Tak harus seratus persen, memang. Sebagian saja mengandung orisinalitas sudah cukup. Yang terpenting selalu ada unsur kebaruannya setiap kali suatu produk dihasilkan. Tidaklah gampang menemukan kebaruan hingga seratus persen. Jika menunggu kebaruan sebesar itu, maka hasil karya kita tak akan pernah selesai. Hakekatnya, terhadap setiap karya yang dihasilkan, selalu ada peluang untuk perbaikan, penyempurnaan, atau pembaharuan berikutnya.

Memegang Fleksibilitas Kreatif
Fleksibilitas kreatif diwujudkan ke dalam bentuk kesediaan untuk mempertimbangkan beragam pendekatan terhadap suatu masalah. Sebagian besar merupakan masalah sikap. Mentalitas yang menghambat biasanya datang dari diri sendiri. Bentuknya mungkin sifat alamiah manusia yang enggan berubah. Dengan berubah, mungkin rasa aman bakal hilang. Zona nyaman (comfort zone) yang telah dinikmati dikhawatirkan bisa terkoyak. Tak ada keberanian untuk berubah, mungkin karena alasan takut salah, dan sebagainya.

Daripada dihantui keengganan berubah dengan bersikeras berpegang pada suatu cara atau gagasan tertentu, orang yang fleksibel  mulai dengan prinsip bahwa apabila satu pemecahan tidak bekerja, dia selalu mendekati masalah tersebut dari sudut lain. Hal ini oleh Joseph G. Mason disebut sebagai “harapan kreatif” Maksudnya, orang kreatif selalu berharap bisa memecahkan masalah betapa pun banyak kegagalan yang dialami yang menunda pemecahannya untuk sementara waktu.
Demikianlah, industri kreatif Indonesia sangat membutuhkan sumber daya manusia yang kreatif. Usaha menumbuhkembangkannya merupakan proses yang berlangsung secara berkesinambungan. Semoga di negeri ini kian banyak insan-insan kreatif yang berkarya demi kemajuan bersama.
Read more ...

Bunga Wijaya Kusuma Itu Sebentar Lagi Mekar

13249845002028848322
I Ketut Suweca

Sudah  lebih dari empat kali Wijaya Kusuma yang tumbuh di halaman rumahku berbunga. Saat mekar untuk pertama kalinya, kami sekeluarga bahkan menungguinya hingga tengah malam untuk mengetahui proses kembangnya. Seperti menunggu orang yang tengah melahirkan, kami duduk bersama-sama, dekat dengan kuncup bunga itu. Kira-kira pukul 19.00 proses pemekaran itu mulai kami perhatikan. Kami sampai melepaskan semua pekerjaan lain hanya untuk menonton bunga misterius ini mekar secara perlahan. Bunga itu mekar sedikit demi sedikit, proses yang amat lambat sehingga sulit dideteksi pergerakannya. “Ada nggak ya kamera yang bisa merekam proses itu?” demikian bisik anak pertama saya seperti berbicara kepada dirinya sendiri.  Tepat pukul 24.00 bunga itu mekar sempurna. Baunya harum mewangi menyebar ke sekeliling. Tampilannya indah dan sangat memesona di antara bunga dan dedaunan di sekitarnya.
Itulah pengalaman pertama kami melihat proses mekarnya bunga ini. Ketika berbunga beberapa kali belakangan, kami kurang memerhatikannya. Kalah oleh rasa kantuk, he he he.

Tanaman bunga Wijaya Kusuma yang hanya tumbuh sebatang di halaman rumahku, kini, lagi-lagi,  menumbuhkan kuncup bunga dari helai-helai daunnya. Tak hanya satu, ada empat kuncup sudah menggelayut dengan manisnya di empat  lembar  daunnya yang pipih dan tebal. Sebelum ini, paling banyak muncul dua atau tiga bunga. Kali ini agak istimewa, ada empat kuncup bunga. Tak lama lagi kami akan menyaksikan kembali proses mekarnya.
Bunga ini sungguh unik. Untuk mekar sempurna hanya butuh waktu beberapa jam dan kemudian layu. Puncak mekarnya pun pukul 12 malam dan segera akan layu setelah itu. Pagi keesokan harinya bunga itu sudah benar-benar layu.
Konon, bunga Wijaya Kusuma berarti bunga kemenangan. Wijaya artinya “kemenangan”, dan kusuma artinya “bunga”.  Konon lagi, di zaman kerajaan  dulu ada keyakinan bahwa apabila bunga ini mekar di istana saat sang istri raja sedang hamil, berarti bakal lahir seorang kandidat raja yang akan duduk di singgasana kerajaan. Kelak, saat memerintah, nama raja itu akan harum karena dicintai  rakyatnya. Percaya atau tidak, silakan.
Sahabat yang dulu memberikan tanaman bunga itu kepada saya pernah mengatakan, bahwa bunga Wijaya Kusuma bisa menjadi tolok ukur kedamaian keluarga. “Tanaman ini hanya akan berbunga dan mekar apabila dia tumbuh di halaman rumah yang penghuninya hidup tenang dan damai. Dia tak akan mau berbunga di sebuah rumah yang penuh dengan kekacauan atau pertengkaran,” jelasnya. Percaya atau tidak, silakan.
Itulah mitos yang mengelilingi bunga cantik ini. Yang pasti, tanaman ini berjenis kaktus. Karena itu, ia tak suka banyak air, batangnya bisa busuk jika kebanyakan air. Apakah di rumah Anda juga tengah tumbuh Wijaya Kusuma yang kini tengah berbunga?
Sampai di sini, saya jadi teringat dengan Omjay, kompasianer ngetop yang bernama asli Wijaya Kusumah. Beda sedikit dengan nama untuk bunga itu, karena ada huruf  ‘h’ di belakang nama beliau. Hello Omjay, maaf nama Omjay saya sebut-sebut di sini.
1324984574453333854
1324984601924477491
Gambar : Wijaya Kusuma mulai mekar dan mekar penuh
Read more ...

Isi Tulisan Adalah “Raja”

I Ketut Suweca

Di antara sekian hal penting dalam sebuah karya tulis, menurut Anda bagian manakah yang paling penting?  Ada pendapat, isinya-lah yang paling penting dalam sebuah tulisan. Bisa saja sebuah tulisan yang dikreasi sedemikian rupa agar tampak menarik, tapi kalau isinya terdiri atas hal-hal sudah diketahui umum, maka nilainya hampir tak berarti. Harus ada sesuatu yang laku  “dijual” pada sebuah karya.  Orang menyebut tulisan tanpa isi sama saja  dengan tulang tak berdaging.   Jadi,  isi (content) demikian penting.
Ada pula pendapat bahwa cara menuliskannya-lah yang terpenting.  Mengapa? Karena, kendati sebuah tulisan yang sesungguhnya mengandung hal-hal  berguna bagi pembaca namun jika tidak ditulis dengan baik, maka akan menjadi percuma. Tulisan yang tak disusun dengan baik -- tidak menggunakan sistematika yang seharusnya, melupakan EYD, sama sekali tidak menghiraukan penalaran -- seperti apa kira-kira jadinya? Kacau-balau, bukan? Orang  pasti  emoh membaca artikel semacam itu. Kalaupun, misalnya, ada yang  bersedia membaca, tak ada sesuatu  yang bisa  dipetik  dari sebuah tulisan yang telah “berhasil” membingungkan pembaca. Jadi, cara/teknik mengungkapkan pikiran melalui bahasa tulis  juga sangat penting.
Akhirnya, mungkin kita sepakat bahwa bukan hanya “apa”-nya yang penting, bahkan juga “bagaimana”-nya pun urgen. Jadi, isi tulisan dan cara membahasakannya sama-sama penting, tak ada salah satu yang lebih penting di antara keduanya.
“Content is the king. Language is the queen,” ujar  Jakob Oetama sebagaimana ditulis St. Sularto dalam buku  “Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama”(Penerbit Buku Kompas, 2011: 265).
Selamat menulis sahabatku. Salam hangat.
Read more ...

Lima Alasan untuk Tidak Menulis

I Ketut Suweca

Menulis atau mengarang bagi sebagian orang merupakan pekerjaan yang pantas dihindari. Mengapa? Ada beragam dalih yang jitu untuk tidak menulis. Mari kita lihat lima di antara sejumlah dalih yang acap kita dengar. Inilah dia.
1.      Takut dicemooh. Ada orang yang ingin memiliki kemampuan sempurna terlebih dahulu, baru bersedia menuliskan ide-idenya. Ia harus pintar dulu, baru menulis. Ia ingin agar pembaca yang menyimak tulisannya tidak mencemooh, bahkan sebaliknya, terkagum-kagum terhadap kualitas tulisan yang ditampilkan. Padahal, kesempuranaan itu bukan milik kita umat manusia. Lalu, kapan kesempurnaan itu ada untuk berani menulis? Oleh karena itu, mari menulis saja, jangan tunggu menjadi manusia pintar dan sempurna terlebih dahulu.
2.      Takut ditolak. Ketakutan tulisan ditolak sama saja dengan orang yang kalah sebelum berperang. Pejuang sejati harus berani maju ke medan perang dan mengupayakan penyerangan dan pembelaan diri. Begitu pula kalau takut ditolak tulisannya, ya, susah mau jadi penulis beneran. Penolakan redaksi sebuah koran atau majalah, bagi para penulis sudah menjadi hal biasa. Jadi, jangan takut tulisan kita ditolak. Tulis saja, kirim saja.
3.      Tidak punya ide. Ini alasan klasik. Ada banyak orang yang kesulitan menemukan ide untuk ditulis. Solusinya adalah : rajin membaca, cermat mendengar, aktif berdiskusi, dan aktif mencatat. Keempat hal itu akan sangat membantu kita mendapatkan ide-ide cemerlang dan merangsang inspirasi datang.
4.      Tidak ada waktu. Ini juga alasan klasik. Salah satu dalih yang paling jitu untuk tidak menulis adalah dengan mengatakan tidak punya waktu. ‘Saya sibuk sekali’ mungkin begitu alasan yang diberikan. Untuk mengatasi hal ini, kiranya perlu kebijakan dalam mengelola waktu.
5.      Tidak tahu bagaimana menuliskan ide. Nah, kalau ini persoalan teknis semata. Ada cukup banyak ide, tapi tak sanggup menuliskan dan memulainya dari mana. Untuk mengatasinya tentu yang bersangkutan harus belajar teknik menulis. Permasalahan semacam ini bisa diatasi dengan penyusunan kerangka karangan atau outline. Berdasarkan outline itulah, tulisan dikembangkan secara sistematis.
Kalau seseorang mempunyai komitmen untuk menulis atau menjadi penulis, maka segala rintangan akan dihadapi dengan gagah berani. Maju terus, serang terus. Andakah itu orangnya?
Read more ...

Musim Hujan Sudah Tiba

I Ketut Suweca

Beberapa bulan ke depan, kita akan menghadapi musim hujan.  Menjelang pertengahan bulan November ini saatnya kita bersiap-siap memasuki  awal musim hujan. Berbagai upaya antisipasi dibutuhkan. Upaya antisipasi  ini penting, sebab berkaca pada bencana yang diakibatkan oleh hujan yang berlebihan pada tahun-tahun sebelumnya, memang semestinya membuat kita tak boleh  lengah. Tahun ini pun sudah mulai  daerah-daerah di Indonesia yang terkena bencana, baik karena cuaca yang kadang-kadang ekstrem, disebabkan hujan yang mengguyur demikian derasnya. Apalagi baru-baru ini, sejumlah kawasan di Denpasar terendam air dengan satu korban hilang. Air Tukad Badung meluap.
Beberapa hal perlu diperhatikan, diantaranya saluran air. Perlu diperiksa kembali saluran-saluran air yang ada, seperti got, kali, sungai. Mungkin di situ terdapat tumpukan sampah yang dipastikan bakal menjadi penyumbat air sehingga air bisa meluap. Got yang dipenuhi  sampah hendaknya dibersihkan. Got, kali, dan sungai yang kadang-kadang oleh sebagian masyarakat yang tak mengerti, dijadikan “tempat pembuangan (sampah) akhir ” (TPA) seyogianya dibersihkan sekaligus dihentikan kebiasaan menjadikan saluran air itu sebagai TPA. Di samping dibersihkan dari sampah, bila perlu dilakukan pengerukan seperti dilakukan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kab. Buleleng terhadap sungai yang bermuara di Pelabuhan Buleleng.  Pembersihan saluran air  menjadi sangat penting, bahkan mendesak dilakukan untuk mengurangi kemungkinan luapan air yang berakibat banjir.
Resiko lain dari datangnya musim hujan adalah kemungkinan terjadinya longsor. Jalan-jalan utama, juga jalan-jalan pedesaan  yang terletak di lereng-lereng perbukitan seperti jalur Singaraja-Denpasar perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Titik-titik yang rawan longsor ini  seharusnya mendapatkan perhatian lebih. Kesiapan peralatan dan tenaga, baik oleh pemerintah maupun masyarakat,  menjadi sangat vital untuk mengantisipasi apabila sewaktu-waktu diperlukan bisa segera  bergerak cepat. Peralatan berat untuk membersihkan longsoran, gergaji listrik, dan sebagainya mesti dalam keadaan siap pakai.
Hal lain yang mungkin perlu mendapat perhatian adalah pepohonan besar dan tinggi yang tumbuh di pinggir jalan. Di atas pepohonan itu biasanya terbentang kabel listrik yang telanjang.  Untuk menghindari bahaya gangguan listrik, sebaiknya bagian pepohonan yang hampir menyentuh kabel listrik itu dipotong. Pepohonan bisa menjadi pengantar listrik yang membahayakan nyawa manusia di sekitarnya. Belum lagi akibat negatif lain, seperti kebakaran karena gesekan kabel dan pepohonan karena tiupan angin.
Yang penting juga, tapi kadang dipandang sepele, adalah kesiapan para pengendara mobil dan motor. Kecepatan kendaraan sebaiknya dikurangi karena di musim hujan jalan-jalan cenderung licin. Wiper pembersih air pada  kaca mobil diperiksa kembali agar dapat berfungsi dengan baik. Para pengendara sepeda motor pun  perlu ekstra hati-hati di jalan dan melengkapi diri dengan perlengkapan berkendaraan di saat hujan.  Jangan sampai hal-hal yang tampaknya kecil dan remeh ini mengakibatkan kelancaran perjalanan menjadi terganggu.
Langkah-langkah antisipasi sangatlah penting. Jangan sampai lengah menghadapi musim penghujan ini. Sebab, jika lengah, antisipasi yang kita persiapkan tidak ada, resiko yang ditanggung pun semakin besar. Sambil berdoa kepada Tuhan Yang Masaesa untuk mohon keselamatan, mari kita songsong musim penghujan ini dengan penuh syukur seraya mempersiapkan upaya antisipasi sebagai bentuk kesiagaan.
Read more ...

Penulis Itu Pembaca dengan Metode “Triple Track”

I Ketut Suweca

Penulis itu adalah seorang pembaca, ya pastilah. Tanpa membaca, seseorang tak akan menjadi penulis yang berhasil. Akan tetapi, apa yang dimaksud dengan pembaca dengan metode “triple track?” Mari kita mulai menjawabnya.
Pertama, seorang penulis pastilah seorang pembaca karya orang lain.  Entah yang dibaca itu buku, majalah, koran atau media online/internet. Dari berbagai media tersebut, si penulis akan mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan itu dicerap sedemikian rupa ke dalam batin. Dengan referensi yang luas, maka pada suatu saat ia pun akan mengalami “kehamilan” dan melahirkan karya-karyanya sendiri.  Semakin luas bacaannya,  kian berbobot karya yang dihasilkan sang penulis. Membaca itu wajib baginya, bahkan sudah menjadi menu harian.
Kedua, seorang penulis adalah pembaca yang “membaca” kebutuhan pembaca. Membaca kebutuhan pembaca berarti mengamati dengan seksama perkembangan yang terjadi di bidangnya. Juga,  membaca dinamika kehidupan yang dialaminya  dan kehidupan di sekitarnya. Jika ingin tulisannya “laku dijual” dalam arti dibutuhkan pembaca, maka dia mesti mengikuti tema yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca.  Bahkan, idealnya, sang penulis mampu membawa pembaca ke arah pencerahan batin dan kemuliaan hidup.
Ketiga, seorang penulis adalah pembaca tulisannya sendiri. Pada saat editing, dia harus mengoreksi tulisannya dengan cermat, bahkan sampai berkali-kali, sebelum dipublikasikan melalui media online seperti kompasiana, majalah, koran, atau buku. Tanpa mengoreksi terlebih dahulu  dengan cermat, karyanya tak mungkin bebas dari kesalahan. Walau sudah dikoreksi berkali-kali pun, kadangkala masih saja ada kesalahan, seperti kesalahan ketik.
Jadi, ada tiga tahap/jalan (triple track) yang dilakukan penulis dalam posisi sebagai pembaca, yakni membaca karya orang lain, membaca kebutuhan pembaca selaras dengan perkembangan yang tengah berlangsung, dan membaca tulisannya sendiri untuk tujuan editing.
Selamat menulis.
Read more ...

Catatan Kecil dari Festival Topeng Internasional

Sejak 30 November sampai dengan 3 Desember 2011, di  Pelabuhan Buleleng, Singaraja, Bali Utara, diselenggarakan Festival Topeng Internasional. Festival ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng dengan International Mask Art and Culture Organization (IMACO). Kegiatan ini diikuti oleh 33 negara yang terdiri dari 28 negara anggota IMACO, delegasi dari seniman Asia, dan dari UNESCO.
Kegiatan ini diisi dengan simposium yang diselenggarakan di Hotel Melka Lovina dan berbagai atraksi seni topeng di panggung terbuka Pelabuhan Buleleng, diantaranya seni kreasi Topeng Ni, Topeng Kang Cing Wi, dan Topeng Pemaculan.  Selain pementasan dan simposium, digelar juga pameran topeng yang diikuti negara-negara anggota IMACO dan perajin topeng dari Buleleng dan Gianyar. Ratusan topeng yang memenuhi dua gedung itu sangat menarik perhatian pengunjung. Bentuknya unik, ekspresinya menarik. Ada pula pameran lukisan dan hasil kerajinan kreatif masyarakat Bali yang terbuat dari kayu.
Berikut adalah hasil bidikan kamera penulis terhadap pameran topeng tersebut.



Toprng Korea

Topeng Tejakula, Buleleng, Bali

Topeng Jawa



Topeng Indonesia

Lukisan Gianyar, Bali


Kerajinan Rakyat

( I Ketut Suweca , 7 Desember 2011).
Read more ...

Editing, Seberapa Penting?

I Ketut Suweca

Para penulis senior selalu mengingatkan betapa pentingnya  editing atau pengeditan naskah. Sebelum sebuah tulisan dikirim ke redaksi koran/majalah atau ke media online, pengeditan tak boleh ditinggalkan. Jika tak dilakukan, maka kemungkinan besar naskah yang terkirim masih banyak kesalahannya. Pengeditan merupakan finishing process dalam mengerjakan sebuah karya tulis.
Pengeditan pada umumnya dipilah menjadi dua, yakni pengeditan pada  aspek kebahasaan dan pengeditan aspek logika. Aspek kebahasaan dimaksudkan adalah yang terkait dengan pemakaian bahasa tulis, seperti tanda baca, diksi, ejaan, dan sebagainya. Selanjutnya, aspek logika meliputi penalaran, koherensi (keterkaitan/keterpaduan), sistematika isi, termasuk memperbaiki kesalahan pada data, nama, dan alamat. Sebuah karya tulis yang baik, bukan hanya bahasanya yang harus baik dan benar, bahkan isinyapun mesti  logis, runut, dan mengandung kejujuran.
Setelah selesai diketik untuk pertama kalinya sebuah naskah akan melalui proses editing sebagaimana disebutkan di atas. Usai pengeditan tahap pertama, sebaiknya naskah dibiarkan dulu beberapa waktu. Kita bisa beralih mengerjakan tugas lain yang tak ada hubungannya dengan naskah tersebut. Ini dimaksudkan agar pikiran kita segar kembali.  Ketika melihat naskah itu kemudian, kita bisa mengoreksi dengan lebih cermat kesalahan-kesalahan yang mungkin masih ada. Untuk naskah ke media cetak atau koran bahkan sangat dianjurkan untuk menyimpannya minimal selama sehari sebelum diperiksa sekali lagi menjelang dikirim.
Bertautan dengan ini, saya mempunyai kebiasaan meminta bantuan anak untuk membaca naskah saya secara cermat sebelum  mengirim ke media cetak. Anak saya yang kelas XII SMA akan membacanya dari awal hingga akhir. Yang diperiksanya terutama yang berkaitan dengan kesalahan ketik, irama tulisan, dan kemudahan dalam memahami isi. Kalau dia mengatakan “sudah cukup” atau “sudah bagus”, maka saya segera mempublikasikannya. Kalau dalam pengeditan itu, dia masih belum mengerti dengan apa yang dimaksudkan dalam teks, maka saya mesti memperbaiki naskah tadi. Itu bisa berarti ada kata-kata sulit yang mesti dicarikan padanannya dalam bahasa yang lebih sederhana. Jadilah anak saya adalah editor naskah-naskah saya.
Untuk tujuan publikasi di koran/majalah, saya membayangkan pembaca naskah itu rata-rata berpendidikan SMA. Jadi bahasa dan logika yang dipakai sesuai dengan tingkatan pendidikan calon pembaca. Kalau anak saya yang siswa SMA sudah bisa paham, maka pembaca pun  saya yakin akan mengerti. 
Read more ...

Kebijaksanaan Seorang Steve Jobs

I Ketut Suweca

Dunia sempat dikejutkan oleh berita meninggalnya Steve Jobs. Tokoh teknologi komunikasi dan informasi dan salah seorang pendiri perusahaan raksasa Apple ini meninggal pada tanggal 5 Oktober 2011 akibat komplikasi kanker pankreas yang dideritanya. Tentang kematiannya, perusahaaan Apple mengumumkan, bahwa mereka sangat berduka telah kehilangan Steve Jobs. “Kecerdasan, semangat, dan energi Steve Jobs sumber inovasi berharga yang memperkaya dan memperbaiki hidup kami semua. Dunia menjadi lebih baik karena Jobs. Cinta terbesarnya adalah untuk istrinya, Laurence dan keluarganya. Kami berduka untuk mereka dan semua orang yang tersentuh oleh perjuangannya yang luar biasa,” demikian dilansir oleh sejumlah media.
Sekilas Masa Kecil dan Karier Jobs
Steve Jobs lahir di San Francisco, California, 24 Februari 1955 dari orang tua kandung Abdulfattah Jandali dan Joanne Schieble. Orang tua biologisnya itu adalah sepasang  kekasih yang masih berstatus mahasiswa saat Jobs dilahirkan. Mereka lalu menyerahkan Jobs untuk diadopsi pasangan Paul dan Clara Jobs dari Mountain View, California. Mereka tinggal dan membesarkan Jobs di Lembah Silikon, sebuah kawasan industri terbesar di Amerika Serikat.  Selang beberapa bulan setelah Jobs diadopsi, Joanne Schieble  dan Jandali menikah secara resmi dan memperoleh keturunan, yaitu seorang  anak perempuan bernama Mona Simpson. Mona tidak pernah tahu dan tak kenal kakak kandungnya hingga dewasa.
Walaupun masa kecilnya tidak menggembirakan, Jobs bisa membuktikan dirinya sebagai orang yang sangat kreatif, visioner, dan inovatif.  Ia biasa menghabiskan masa liburan SMA dengan magang di perusahaan Hewlett Packard di Palo Alto. Saat itulah dia bertemu dengan Steven Wozniak, seorang perancang desain komputer. Bahkan kemudian, mereka bekerjasama dan berhasil membangun sebuah mesin komputer yang dinamai Apple I.  Usahanya ini berhasil mendapatkan keuntungan, dan mereka pun membangun Apple II, yang kembali sukses dijual di pameran komputer California tahun 1977. Keduanya lalu mendirikan perusahaan bernama Apple, yang pada awalnya dimulai dari garasi di sebuah rumah. Perusahaan itu didirikan, setelah Jobs berhasil meyakinkan seorang pengusaha lokal, Mike Markulla, untuk memberikan bantuan dana sebesar 250.000 dollar AS.
Anehnya, Steve sempat dipecat  pada tahun 1985 dari perusahaan Apple yang didirikannya karena dipandang bahwa ia ‘tak dapat dikontrol.’ Tapi, Steve mengaku karena adanya perbedaan dalam visi mengenai masa depan dan sulit disatukan.   Namun,  pada tahun 1996 dia ditarik  kembali ke Apple setelah di luar dia menunjukkan kehebatannya dengan  mendirikan NeXt, sebuah perusahaan pengembangan platform komputer. Perusahaan ini dibeli senilai $429 juta oleh Apple,  dan Jobs pun kembali ‘pulang’. Setahun berselang, Jobs menjadi CEO perusahaan raksasa Apple. Pasca kembalinya Jobs, Apple maju pesat. Produk-produk revolusioner dan laku seperti iPod, iPhone, iPad, dan Macbook Air yang supertipis pun lahir dari Apple Inc. (Kompas, 7/10/2011).
Kebijaksanaan Hidup
Sepeninggal Jobs, banyak orang memburu produk-produk Apple, sebagai bentuk kecintaannya kepada Jobs dan Apple. Sementara itu, banyak pula kalangan yang khawatir dengan nasib perusahaan raksasa itu. Pertanyaan yang muncul di antaranya, apakah Apple masih akan sanggup melahirkan produk-produk inovatif sebagaimana ketika Jobs masih ada? Di tengah keraguan dan kian ramainya pencinta produk Apple berburu berbagai varian yang dikeluarkan Apple, ada hal yang sangat positif yang diwariskan Jobs untuk masyarakat dunia, yakni kebijaksanaan  hidup. Inilah diantaranya.
Steve Jobs dikenal sebagai manusia yang fokus. Ia berkonsentrasi dengan penuh antusias terhadap pekerjaannya untuk mencapai hasil terbaik. Ia mengembangkan produk terbaik dari Apple Inc untuk dinikmati oleh konsumen, bahkan hingga mengguncang dunia. Keuntungan materi bukan menjadi tujuan utama Jobs. Salah satu nilai dasar yang ia tanamkan di Apple Inc adalah membuat sesuatu yang benar-benar memberi kontribusi besar bagi masyarakat.  “Buatlah sesuatu yang memberikan kontribusi besar bagi masyarakat, sesuatu yang bisa membuat lekukan di alam semesta. Saat itu tercapai, keuntungan materi akan mengikuti dengan sendirinya,”  ujarnya pada sebuah pidato dalam  acara wisuda Stanford University. Steve Jobs juga betul-betul  fokus dalam menentukan apa yang hendak dibangun. Ia tidak mudah tergoda oleh arus pasar.
Jobs juga dikenal sebagai manusia yang mendengarkan kata hati dan intuisi. Dalam pidatonya yang berdurasi 15 menit itu, Jobs mengatakan: “Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apapun lainnya. Pendekatan ini efektif  dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya,” ujarnya. Pada bagian lain pidatonya itu, ia berkata: “Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak terdengar kata hati Anda. Dan, yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan.”  Kata hati dan intuisi adalah patokan Jobs dalam bekerja dan melakoni hidup.
Satu lagi kebijaksanaan berharga dari Steve Jobs, yakni pentingnya  memilih pekerjaan yang benar-benar disukai.  Ia meyakini, bahwa yang membuatnya betah bekerja adalah karena dia menyukai pekerjaan itu. “Saya yakin, bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaaan maupun pasangan hidup. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan, Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.” ujarnya dalam pidato itu.
Selanjutnya dikatakan:  “Bila Anda belum menemukan, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.”  Rupanya petuah terakhirnya ini tak hanya relevan untuk menemukan karier dan melangkah menjalaninya hingga ke puncak, bahkan juga relevan dengan usaha menemukan pasangan hidup.
Yang terakhir yang tak kalah pentingnya yang dapat dipetik dari pidato Jobs adalah tentang kematian.  “Kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya, maka yang tua menyingkir untuk diganti yang muda,” tandasnya.
Demikianlah Steve Jobs. Ia tercatat sebagai tokoh teknologi informasi dan komunikasi berkelas dunia. Jobs bahkan dianggap sejajar dengan Thomas Edison dan Henry Ford pada masanya.  Kebijaksanaan hidup yang diwariskan Jobs kepada masyarakat, antara lain perlunya fokus, mengikuti kata hati dan intuisi dalam bekerja, serta pentingnya memilih dan melakukan pekerjaan yang disukai. Dan, kematian menurutnya merupakan buah terbaik dari kehidupan yang membuat hidup berputar.  Steve Jobs meninggal pada tanggal 5 Oktober 2011 dalam usia 56 tahun. 
Read more ...

Sastrawan Sunaryono Basuki: Saya Ini Tukang Ketik!

I Ketut Suweca

Anda mengenal nama Sunaryono Basuki Koesnosoebroto? Atau, bahkan Anda pernah menjadi muridnya? Sunaryono Basuki Ks adalah salah seorang begawan sastra yang dimiliki Indonesia. Pak Bas, demikian biasanya murid dan sahabatnya memanggil, lahir 9 Oktober 1941 di Kepanjen, Malang, dan sudah lama menetap di Singaraja, Bali. Ia pensiunan guru besar IKIP Negeri Singaraja (kini Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja). Kiprahnya dalam dunia sastra sudah tak terbilang lagi. Ratusan karya sastra lahir  dari tangannya, seperti novel, cerpen, puisi, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sebagian besar sudah dipublikasika di koran, majalah, dan dalam bentuk buku.  Belum lagi buku-buku teks yang diperuntukkan bagi para mahasiswa.
Sastrawan sepuh yang beristrikan I  Gusti Ayu Darmika dan dikaruniai tiga orang anak (anak pertama almarhum) dan tiga orang cucu ini, masih tetap produktif menulis. Dia juga menerjemahkan karya-karya sastra dunia dari bahasa Inggris  ke dalam bahasa Indonesia. Maklum saja, bahasa Inggris adalah keahlian utamanya di samping sastra. Saat masih mengajar dulu ia memang mengajar di jurusan bahasa Inggris. Demikianlah, limpahan karyanya tak pernah surut. Kian berumur, kian banyak saja karya tulis yang terlahir dari tangannya. Ia sangat produktif.
Bedah Kumpulan Cerpen
Tanggal  9 Oktober 2011 Pak Bas genap berusia 70 tahun. Untuk memperingati ultah ini, maka pada hari Minggu, 16 Oktober 2011 diselenggarakan acara pembedahan sekaligus peluncuran buku kumpulan cerpennya yang berjudul “Antara Jimbaran dan Lovina”. Bedah buku itu diselenggarakan di Danes Art Gallery, Jl. Hayam Wuruk 159 Denpasar. Hadir sebagai pembedah/pembahas buku tersebut, yakni Dr. Fabiola Kurnia, Dr. Jean Couteau, dan Drs. I Nyoman Tingkat, M.Hum. Puluhan penulis dan sastrawan hadir pada forum itu untuk memberi apresiasi terhadap buku Pak Bas, sekaligus menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-70 untuknya. Suasana bedah buku itu menjadi semakin meriah dengan pembacaan puisi oleh para penyair/sastrawan usia muda dan alunan suara merdu Ayu Laksmi yang bertema nyanyian semesta.
Para pembedah buku kumpulan cerpen ini melihat, Pak Bas sudah banyak berkarya dengan menghadirkan adat dan budaya Bali. Walaupun, sebagaimana dikatakan oleh Jean Couteau dan I Nyoman Tingkat, budaya Bali diletakkan hanya sebagai latar cerita, sama sekali tidak secara khusus memberi penilaian atau protes terhadap budaya tersebut. Tak ada sikap frontal atau konfrontif  di situ. Pak Bas memilih  memainkan pena  secara halus dan tersamar, tanpa kritik yang eksplisit.  Hal ini terlihat dari bagaimana seorang Sunaryono Basuki mengemas cerita dalam kumpulan cerpen itu seperti “Dadong Dauh”, dan “Cok.”
 Sementara itu, Fabiola Kurnia, menyebut Pak Bas sebagai seorang pendekar pena yang menjadi transformer, yakni orang yang mentransformasikan dunia imajinasi dan fakta ke dalam balutan cerita yang utuh untuk dipersembahkan kepada pembaca.
Sudah Ada di Langit
Pada bagian “Tentang Penulis” dalam buku itu, antara lain Sunaryono Basuki Ks menyebut diri hanya sebagai tukang ketik. Ketika saya (penulis) yang turut hadir pada kesempatan tersebut menanyakan lebih jauh tentang hal ini, Pak Bas menjawab bahwa memang dia benar-benar merasa sebagai tukang ketik, tidak lebih, tidak kurang.
“Semuanya sudah ada di langit.  Tugas saya hanya mengambil saja, itu pun kalau diberi kesempatan. Apa yang saya pikirkan dan tuliskan, sudah ada di situ. Sudah pernah saya coba membuat penokohan sesuai dengan keinginan saya. Tapi, nyatanya tokoh-tokoh yang saya persiapkan dengan perannya masing-masing, semuanya berontak. Yang jahat tak mau jadi orang jahat, malah jadi tokoh yang baik. Sebaliknya, yang saya siapkan jadi tokoh yang baik, eh malah jadi jahat. Jadi, saya menyadari bahwa apa yang saya tulis itu sebelumnya sudah tertulis di langit. Saya tinggal mengambilnya. Dari sini saya belajar, bahwa hanya Tuhanlah Sang Pencita, bukan manusia. Ini menghindarkan diri dari kesombongan,” ujarnya di depan forum yang dihadiri oleh para satrawan dan penulis itu.
Selamat ulang tahun ke-70. Semoga Tuhan melimpahkan kesehatan kepada Pak Bas, sehingga bisa tetap  berkarya. Karya-karya Pak Bas akan menjadi warisan yang sangat berharga bagi  generasi penerus negeri ini.
Read more ...

Ketinggian Bangunan atau Pemerataan Pembangunan?

Oleh I Ketut Suweca

Belakangan ini muncul wacana di media massa tentang usulan penyempurnaan  Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bali. Dalam RTRW yang masih berlaku sekarang, ketinggian bangunan di Bali maksimum 15 meter. Jika lebih, bakal terkena sangsi. Rupanya setelah diberlakukan sekian lama, ketinggian sebesar itu tidak lagi mencukupi. Dipandang perlu lebih dari itu pada zona tertentu. Wacana tersebut, tak pelak, memunculkan perdebatan yang tak berkesudahan dengan argumen masing-masing.
Secara garis besar terdapat dua arus utama pemikiran yang saling berseberangan. Di satu pihak adalah pemikiran menghendaki bangunan di Bali diperbolehkan lebih dari 15 meter sehingga diperlukan perubahan RTRW Bali. Di lain pihak adalah pemikiran yang menginginkan ketinggian maksimal bangunan ditetapkan 15 meter sesuai dengan RTRW yang sudah ada.

Silang Pendapat
Alasan pihak yang menghendaki bangunan dibolehkan lebih dari 15 meter pada intinya adalah karena keterbatasan lahan yang tersedia. Jika dibiarkan perkembangan pemukiman berlangsung bersamaan dengan bertambahnya penduduk Bali, maka lahan pertanian dan lahan kosong lainnya akan habis. Tak ada lagi lahan pertanian dan perkebunan yang hijau seperti yang kita nikmati sekarang. Menurut pendapat ini, tak ada pilihan lain untuk mengatasi masalah pemenuhan akan kebutuhan pemukiman selain membuat bangunan dan pemukiman yang bertingkat ke atas (vertikal) pada zona tertentu, sehingga mengatasi penggunaan lahan di sekitarnya. Paling tidak, upaya ini dapat memperlambat laju pengalihan fungsi lahan.
Alasan pihak kedua yang menghendaki ketinggian bangunan ditetapkan tak lebih dari 15 meter adalah jika bangunan-bangunan pemukiman, hotel, jenis bangunan lainnya pada zona tertentu di Bali diberikan membangun lebih dari 15 meter, maka Bali tak ada bedanya dengan beberapa wilayah/kota lain di Indonesia. Keindahan alam Bali akan tersapu oleh bangunan-bangunan bertingkat yang memenuhi kawasan. Pandangan mata akan berbenturan dengan beton-beton menjulang tinggi di kiri-kanan jalan. Bali tak lagi menjadi Bali.  Hal ini dipandang menjauh dari folosofi dasar manusia Bali yang berbasis spiritual Hindu: tri hita karana. 

Beberapa Pertimbangan
Pertama, dalam kaitannya dengan pembangunan Bali ke depan, seyogianya falsafah dan kearifan leluhur yang adiluhung hendaknya senantiasa menjadi pegangan utama. Betapapun,  kearifan itu akan mampu mempedomani generasi demi generasi agar dapat hidup dalam keseimbangan sekaligus menghindari perasaan keterasingan di daerah sendiri. Oleh karena itu, kiranya filosofi tri hita karana, salah satunya,  hendaklah tetap menjadi pegangan dalam kehidupan manusia Bali.  Karena, dengan konsep warisan leluhur ini, manusia Bali bisa hidup cukup harmonis hingga sekarang, dan sampai nantipun diharapkan demikian bahkan lebih baik lagi. Betapa eloknya bisa tetap hidup selaras dengan alam, dengan sesama manusia, dan Tuhan.
Kedua, persoalan yang ada bukanlah terletak pada perlu-tidaknya perubahan ketinggian bangunan dari 15 meter menjadi boleh lebih dari itu. Itu hanyalah keinginan yang muncul sebagai efek dari kepadatan penduduk yang melebihi kapasitas tampung suatu wilayah. Jadi, persoalan mendasarnya ada pada masalah kepadatan penduduk di kota Denpasar dan Badung sebagai akibat dari ketidakmerataan persebaran pembangunan di  wilayah Bali. Kepadatan ini terjadi sebagian besar karena kehadiran para pendatang dari luar wilayah itu, baik dari Bali maupun luar Bali. Yang membuat mereka datang dan bermukim di kedua wilayah tersebut tentu karena di situ ada sumber penghasilan/penghidupan: pekerjaan. Kebutuhan akan pekerjaan itulah yang mendorong mereka datang ke Badung dan Denpasar. Sementara, di daerah asal, mereka tidak mendapatkan penghasilan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan untuk mengembangkan diri.
Di Badung dan Denpasar ada ratusan  jenis pekerjaan, mulai dari bisnis jasa hingga bisnis yang menghasilkan produk tertentu. Industri, pendidikan, pariwisata, numplek bleg di situ. Yang paling menonjol adalah bisnis pariwisata yang membutuhkan tenaga kerja yang besar. Daripada harus bolak-balik ke desa asal, mereka akhirnya memilih tinggal di wilayah dekat tempat mereka bekerja, baik dengan menyewa ataupun dengan membangun pemukiman sendiri. Alhasil, Denpasar dan Badung menjadi padat penduduk, padat lalu lintas, padat pula tuntutan akan lahan pemukiman. Salah satu solusi alternatif yang ditawarkan adalah membuat aturan bangunan boleh lebih dari 15 meter. Maksudnya, antara lain  agar masalah kebutuhan tempat hunian, dll. dapat diselesaikan, sementara pengalihan fungsi lahan dapat diperlambat.
Ketiga, penulis melihat bahwa merevisi aturan ketinggian bangunan pada RTRW Bali bukanlah alternatif terbaik. Dengan penyesuaian aturan yang membolehkan ketinggian bangunan lebih dari 15 meter, untuk sementara,  mungkin akan dapat menanggulangi masalah kebutuhan pemukiman. Solusi ini tidak akan menyelesaikan persoalan jika migrasi penduduk terus terjadi dari desa-desa di Bali atau di luar Bali ke Badung dan Denpasar. Lima sampai sepuluh tahun lagi, persoalan yang sama akan muncul lagi. Akankah RTRW diubah lagi sehingga pada akhirnya berapun ketinggian bangunan akan diperbolehkan?
Tanpa data statistikpun kita bisa melihat betapa pembangunan di Bali sama sekali belum merata. Ada wilayah/kota yang berkembang sangat pesat seperti  kedua wilayah yang disebutkan di atas, sementara ada bagian lain dari wilayah Bali jauh lebih lambat. Di mana ada kesempatan berkembang, ke situlah orang akan datang mengais rejeki. Analoginya, di mana ada gula ke situlah semut beramai-ramai  nglurug.
Keempat, berkaitan dengan point ketiga di atas, Bali sesungguhnya membutuhkan grand desain pembangunan wilayah yang bisa mendorong pusat-pusat pertumbuhan bisa tersebar secara seimbang di seluruh wilayah kabupaten/kota. Memang ini sulit. Tapi, jika tak dilakukan/diusahakan secara sungguh-sungguh, maka Bali akan menangis dalam 10-20 tahun lagi. Kesenjangan akan kian menganga. Kini pun kedua wilayah itu sudah jenuh oleh kepadatan penduduk. Kemacetan lalu-lintas sehari-hari adalah contoh kecil di permukaan yang bisa kita lihat dan rasakan kini. Denpasar dan Badung benar-benar akan mengalami total traffic-jam. Dalam konsep membangun Bali, seyogianya pusat-pusat pertumbuhan itu bisa tersebar merata dan seimbang di seluruh wilayah. Tak hanya di Bali Selatan, juga di Bali Timur, Barat, dan Utara.  Dengan persebaran ini, maka tenaga kerja tak lagi terkonsentrasi di kedua wilayah tadi, melainkan tersebar di seluruh wilayah Bali. Alhasil, kesenjangan pendapatan dapat dikurangi, dan keseimbangan tingkat kepadatan dan persebaran   penduduk pun dapat dijaga.  
Uraian di atas hendak menjelaskan masalah yang dihadapi Bali adalah persoalan kebutuhan persebaran penduduk yang belum merata karena pembangunan yang kurang seimbang antara Bali Selatan dengan Bali Timur, Utara, dan Barat.  Meninggikan bangunan kiranya bukanlah jawaban terbaik. Itu hanya solusi jangka pendek tetapi tak menyelesaikan masalah dalam jangka menengah dan  panjang. Bali memang benar-benar mesti dijaga agar tidak kehilangan “kebalian”-nya dalam dinamika dan gemuruh pembangunan. Bisakah?


Read more ...